"Lakukanlah apa yang bermanfa'at untuk dirimu dan berpegang teguhlah dengannya"

Jumat, 08 September 2017

Zakat Kian Meningkat


DUKUNGAN KUAT PEJABAT NEGARA MEMBUAT ZAKAT KIAN MENINGKAT

Uni Emirat Arab (UEA) merupakan negara persekutuan yang terdiri dari tujuh Emirat, yaitu :
  • Abu  Dhabi
  • Ajnam
  • Dubay
  • Fujairah
  • Ras Al-Khaimah
  • Sharja
  • Serta Umm-Al Qaiwain
Ketujuh Negara Persekutuan tersebut itu adalah negara kaya dengan kandungan minyak bumi yang melimpah.

Terhitung sejak tahun 1973, Negara UEA yang semula negara kecil tumbuh menjadi negara kaya. Tercatat UEA menjadi penghasil minyak bumi dan gas terbesar ketiga diantara negara-negara teluk setelah Arab Saudi dan Iran. Kekayaan UEA beredasarkan sumber daya alam (SDA) itu sebesar 33% dari Product Domestic Bruto (PDB).

Dalam hal Pengelolaan Zakat UEA mendirikan The Zakat Fund. Lahirnya badan ini di landasi terbitnya undang-undang (UU) Federal nomor 4 tahun 2003 mengenai badan zakat. zakat fund merupakan badan publik yang indevenden. badan ini juga dinaungi kapasitas hukum dalam menjalankan programnya. zakat fund bekerja di bawah Dewan Mentri serta tunduk padanya. secara berkala zakat fund menyerahkan laporan kegiatan dan pencapaian hasilnya.

Pada pratiknya, zakat fund bertugas dalam penghimpunan serta pendistribusian zakat. disamping itu, lembaga ini berupaya untuk meningkatkan kesadaran berzakat masyarakat UEA. pendekatan yang di pakai dalam zakat fund ini dengan menawarkan perhitungan zakat online, pembayaran, serta layanan zakat fatwa.

Program zakat fatwa ini dinamai, "Yas Alunaka" dalam bahasa indonesia yang berarti "mereka bertanya padamu". dalam layanan ini masyarakat dapat mengikuti tanya jawab seputar zakat untuk lebih memahami Rukun Islam yang ketiga ini. selain itu disajikan pula kumpulan kompilasi fatwa zakat dari para sarjana yang di akui.

Untuk mempasilitasi pembayaran zakat, zakat fund menawarkan sejumlah layanan pembayaran. pembayaran dapat di lakukan secara online atau Zakat Online Paiment. hal ini tidak terbatas hanya di UEA saja, namun dapat di lakukan juga dari berbagai belahan dunia. zakat juga dapat di salurkan, baik melalui telepon seluler maupun di simpan dalam rekening bank dana yang tersedia di sejumlah bank syariah.

Di UEA terdapat delapan bank syariah serta 13 Lembaga Keuangan Islam dan perusahaan Asuransi yang wajib membayar zakat. sementara besaran yang wajib di salurkan pada zakat fund sebesar 2,5% dari modal operasional bersih untuk dana dari awal tahun berikutnya. Bank Syariah tersebut juga wajib melaporkan akun yang perlu di audit atas pembayaran zakatnya. rencana strategis zakat fund bertujuan untuk meningkatkan jumlah pembayar zakat sebesar 10% pertahun. saat ini, UEA memiliki tidak kurang 2.050 orang yang membayar zakat. pendapatan dari pembayaran zakat di rencanakan mencapai tiga kali lipat pada akhir 2010 dari jumlah saat ini Dh46, 750.000. pendapatan dari sumber lain direncanakan akan meningkat 20% tahun ini, 32% tahun depan dan 42% tahun 2010. dana tersebut juga mendorong perusahaan untuk mensponsori berbagai aktivitasnya.

SUDAHKAH ANDA BERZAKAT HAR INI.....?

Zakat Fund berencana untuk meningkatkan konsep zakat sebesar 20% pada akhir 2010. pada akhir tahun ini, zakat fund berencana menerima permintaan dari masyarakat prasejarah untuk menerima zakat. zakat fund juga akan meluncurkan kampanye dalam bahasa arab dan inggris melalui semua media masa. kursus tentang akuntansi zakat juga akan diselenggarakan bagi Akuntan Manager Keuangan perusahaan.

Dari tahun ke tahun perhimpunan di UEA terus mengalami peningkatan ini selain karena pengelolaan yang di lakukan oleh zakat fund juga karena dukungan kuat yang diberikan sejumlah pejabat negara.

Salah satu program yang di jalankan sebagai bentuk penyaluran zakat ini adalah dengan memberikan zakat kepada seratus mualaf. penerimaan rentan usia 22-32 tahun. Mayoritas diantaranya muslim berlatar belakang warga filipina dan india.

Para ulama UEA menyimpulkan bahwa zakat memurnikan kekayaan seorang muslim dan juga menekan ego, iri hati keserakahan dan kekikiran. ini bukan bentuk pajak, melainkan tugas ilahi dan dianggap sebagai hak masyarakat miskin atas masyarakat kaya, bukan amal. zakat yang di kenakan pada kekayaan membuat kekayaan beredar di tubuh negara, yang bertindak perangsang yang kuat untuk menanamkan modal pada usaha produktif, sehingga mendorong pertumbuhan. 

Dalam kontek hadits tentang zakat telah di jelaskan secara gamblang, hadits ini diriwayatkan oleh berbagai para ulama hadits diantaranya  Thabrani dari Abu Darda dan Al-Baihaqi dari Ibnu Umar ra Rosulullah bersabda :
اَلزَّكَاةُ قَنْطَرَةُ الِْاسْلَامِ
Arrtinya : "Zakat itu adalah jembatan islam"
اَلزَّكَاةُ طُهْرُاْلِايْمَانِ
 Artinya : "Zakat adalah kesucian iman"
لَايَقْبَلُ اللَّهُ الِْايْمَانَ اِلَّابِالزَّكَاةِ وَلَا اِيْمَانِ لِمَنْ لَازَكَاةَ لَهُ
Artinya : "Allah tidak akan menerima iman melainkan dengan zakat, dan tidak sempurna iman seseorang yang tidak mau berzakat"
حَصِّنُوااَمْوَلَكُمْ بِالزَّةِ وَدَوُوْاَمَرْضَكُمْ بِالصَّدقَةِ وَاَعَدُّوْا لِلْبَلاَءِ الدُّعَاءَ
Artinya : "Bentengilah harta kamu semua denga zakat, obatilah orang-orang sakitmu dengan bersedekah, dan persiapkanlah doa sewaktu-waktu muncul bencana.

Semoga Bermanfaat.

//BERBAGAI SUMBER


      




Share:

Kamis, 07 September 2017

Hakikat Ilmu Laduni

Ketahuilah, bahwa hakikat ilmu laduni itu adalah aliran cahaya ilham setelah terjadinya kesesuaian dan kesempurnaan. sebagaimana Firman Allah (Qs.Asy-Syams :7)
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَاً. الشمس ٧١
Artinya : "....Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)

Dalam hal ini sebagai rujukannya ada tiga tahap untuk mencapai ilmu laduni, yaitu :
  • Menghasilkan semua ilmu dan mengambil bagian yang paling sempurna dari mayoritasnya.
  • Melakukan Riyadho (melatih diri) dengan benar, selalu merasa di awasi Allah dan benar-benar takut kepada-Nya karena Rosulullah Saw mengisyaratkan akan hakikat ini di dalam haditsnya : 
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ اَوْرَثَهُ اللَّهُ عِلْمُ مَالَمْ يَعْلَمْ
Artinya : "Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah di ketahui, maka Allah akan mewariskan ilmu yang  belum ia ketahui"
مَنْ اَخْلَصَ لِلَّهِ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا اَظْهَرَاللَّهُ تَعَاَلَى يَنَابِيْعَ الْحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ
Artinya : "Barangsiapa yang ikhlas karena Allah selama empat puluh hari (menunaikan jama'ah sholat) subuh, maka Allah akan menampakkan sumber hikmah dari hati melalui lisannya".
  • Berpikir atau melakukan perenungan. sesungguhnya apabila jiwa telah mengerti dan merasa puas dengan ilmu, kemudian berpikir tentang semua yang di ketahuinya dengan memenuhi syarat-syarat berpikir, maka terbukalah baginya pintu-pintu kegaiban. seperti seorang pedagang yang membelanjakan hartanya dengan memenuhi syarat-syarat pembelanjaan, maka akan terbukalah pintu-pintu keuntungan. Tetapi jika ia menempuh jalan yang salah, maka dia akan terjatuh dalam kehancuran dan kerugian.
Seseorang pemikir, bila melalui jalan yang benar, maka ia akan menjadi orang yang pandai dan terbukalah lubang dari alam gaib yang memancar menuju ke dalam hatinya. sehingga ia akan menjadi orang yang alim, cerdas dan mendapatkan ilham untuk menguatkannya, sebagaimana Rosulullah Saw bersabda :
تَفَكَّرُ سَاعَةً خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّيْنَ سَنَةً
 Artinya : "Berpikir sesaat lebih baik dari pada ibadah enam puluh tahun".

Sedangkan mengenai syarat-syarat berpikir, insya Allah penulis akan membahasnya di dalam risalah yang lain. karena penjelasan bertafakkur (cara berpikir) dan hakikatnya adalah sesuatu yang samar, yang membutuhkan tambahan penjelasan dan penafsiran, tentu atas pertolongan Allah SWT.
 
Kiranya keterangan ini sudah cukup bagi orang yang memiliki ke ahlian di bidang ini. Allah SWT berfirman :
وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُرًافَمَالَهُ مِنْ نُوْرٍ. النور ٤
Artinya : "Dan barangsiapa yang tiada di beri cahaya oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya (petunjuk) sedikitpun".

Semoga Bermanfaat.

Sumber : Kitab Ihya Ulumuddin Karya Imam Al-Ghazali

Share:

Rabu, 06 September 2017

Petuah Usfuriyah

AMAL ORANG YANG SEHAT DI TULIS PADA WAKTU SAKITNYA


Dari Abi Umamah Al-Bahili ra, bahwa Rosulullah bersabda :

إِزَا مَرِضَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ أَمَرَاللَّهُ تَعَالَى الْمَلاَءِكَتِ أَنِ كْتُبُوْا لِعَبْدِ أَحْسَنَ مَاكَانَ يَعْمَلُ فِى الصِّحَةِ وَالرَّخَاءِ
Artinya : "Apabila orang mukmin sakit, Allah Ta'ala menyuruh para malaikat, "Tulis bagi hamba-Ku amal terbaik yang dikerjakannya di waktu sehat dan sejahtera".

Al-Kisah. diceritakan bahwa pada masa bani Israel terdapat seseorang lelaki fasik, tidak berhenti melakukan kejahatan, sedangkan penduduk negeri tersebut tidak mampu mencegah dari ke fasikannya, mereka (penduduk negeri) berdoa dengan khusyu kepada Allah Ta'ala.

Lantas Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa ada anak muda dari kalangan bani Israel yang banyak berbuat kejahatan, dan Allah Ta'ala berkata kepada Nabi Musa as : "usirlah dia dari negeri mereka hingga di timpa neraka."

Maka Nabi Musa as mengusir pemuda fasik itu dari desanya atas perintah Allah, kisah ini sangat menarik untuk menjadi bahan renungan kita dan di balik kisah ini ada kasih sayang nya Allah terhadap hamba-hambanya.

Atas perintah Allah Nabi Musa mengusirnya dari desa, pergilah pemuda fasik itu ke salah satu desa. kemudian Allah Ta'ala menyuruh Musa as mengusirnya dari desa itu, Musa mengusirnya sekali lagi dari desa itu sehingga pergilah pemuda fasik itu kepadang luas dan ke suatu tempat yang di situ tidak terdapat satupun manusia, burung, maupun binatang buas.

Sang pemuda pun akhirnya jatuh sakit di tempat itu dan tidak seorangpun yang menolongnya. ia tergeletak di atas tanah seraya berkata dalam sakitnya. "Wahai Tuhan-Ku" andaikata ibuku berada di dekat kepalaku niscaya ia akan menyayangi dan menangisi atas kehinaanku.

Andaikata ayahku berada di sisiku tentu dia akan menolong, memandikan, serta mengafaniku. andaikata istri berada di sisiku tentu ia akan menangis lantaran berpisah denganku.

Andaikata anak-anakku berada di sisiku, tentu meraka menangis di belakang jenazahku dan akan berkata, "Ya Allah ampunilah ayah kami yang asing", lemah, durhaka, serta berbuat kejahatan dan terusir dari suatu kota ke kota lain, dari desa ke tanah lapang dan keluar dari dunia menuju akherat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu kecuali dari rahmat Allah"

Pemuda itu terus berkata, "Ya Allah, jika engkau memutuskan hubunganku dengan ibuku, anak-anakku dan istriku, maka janganlah Engkau putuskan aku dari Rahmat-Mu dan Engkau telah membakar hatiku dengan perpisahan mereka dariku, janganlah Engkau bakar aku dengan api-Mu lantaran maksiatku.

Subhanallah sungguh mengharukan kisah ini, lihat betapa tidak berdayanya pemuda fasik itu lantaran sakitnya yang tidak seorangpun menolongnya, akan tetapi dengan kerendahan hatinya pemuda itu terus merengek-rengek berdoa kepada Allah agar mendapat rahmat dari Allah Ta'ala.

Al kisah lantas Allah Ta'ala mengirimkan bidadari yang merupakan ibunya, seorang bidadari yang merupakan istrinya, anak-anak yang merupakan anaknya, dan seorang malaikat yang merupakan ayahnya.

Merekapun duduk di sisinya dan menangisi pemuda itu seakan adalah anak-anak, istri, ibu dan ayahnya yang hadir di sisinya, "Ya Allah, janganlah Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Pemuda itupun berpulang ke rahmat Allah dalam keadaan suci dan terampuni. Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Musa as 'pergilah engkau ke tanah lapang begini dan tempatnya begini, di situ telah meninggal dunia salah seorang Wali-Ku, mandikan, kafani, dan sembahyangilah dia.

Tatkala Musa tiba di tempat itu, ia melihat pemuda itu yang di usirnya dari kota dan desa dengan perintah Allah Ta'ala serta melihat bidadari menagisinya.

Nabi Musa as berkata, "Wahai Tuhan-Ku" bukankah ia adalah pemuda fasik yang ku usir dari kota atas perintah-Mu...?' Allah Ta'ala menjawab 'benar hai Musa, akan tetapi Aku kasihan da memaafkannya lantaran dalam sakit dan kejauhannya dari kampung halaman, jauh dari kedua orang tua dan anak-anak, serta istrinya. Kukirim bidadari dalam rupa ibunya da malaikat dalam rupa ayahnya, lantaran kasihan atas kehinaan dalam kesendiriannya.

Apabila orang asing (yang tidak bersanak keluarga) mati, penghuni langit dan bumi menangisinya lantaran kasihan kepadanya. Karena itu bagaimana Aku tidak mengasihinya, sedang Aku adalah Yang Maha Penyayang diantara para Penyayang.

Itulah kasih sayang nya Allah terhadap hamba-hambanya. semoga bermanfaat kisah ini bagi saya pribadi maupun pembaca yang budiman.

Sumber : Kitab Mawa 'Idul Usfuriyah Karya Muhammad bin Abu Bakar Al-Usfuri.






Share:

Selasa, 05 September 2017

Jalan Untuk Bertobat

Tingkatan dan tahap-tahap tertentu dalam perkembangan spiritual di peroleh melalui tobat. jalan untuk bertobat hanya dapat di pelajari dari seseorang yang mengetahui cara bertobat dan  terutama dirinya sendiri telah bertobat. Penyesalan yang total dan sungguh-sungguh merupakan langkah pertama.

Firman Allah dalam surah (Qs. Al-Fath [48] : 26)

إِزْجَعَلَ الَّزِيْنَ كَفَرُوْافِ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةِ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِيْنَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْامِنِيْنَ وَأَلْنَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَاى وَكَنُوْآأَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَنَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍعَلِيْمًا .الفتح:٢٦
Artinya : "Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, yaitu kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rosul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Allah Maha mengetahui segala sesuatu". 

Keadaan Takwa terhadap Allah memiliki makna yang sama dengan La ilaha illallah yang artinya tiada Tuhan selain Allah, tiada apapun kecuali Allah. orang yang mengetahui hal ini merasa takut kehilangan Dia, kehilangan Kemurahan-Nya, cinta-Nya, rahmat-Nya, pengawasan-Nya, dan takut terhadap hukuman-Nya. jika tidak dapat melakukan seperti itu, dia harus mencari seseorang yang takwa dan menerima ketakwaan terhadap Allah ini darinya.

Sumber takwa ini harus dibersihkan dari segala sesuatu selain Allah, dan siapapun yang menerimanya harus memiliki kemampuan untuk membedakan antara kata-kata orang dengan hati yang suci dan kata-kata yang di ucapkan oleh lidah orang-orang awam.

Dia juga harus memahami sumber kata itu di ucapkan, karena kata-kata yang terdengar sama mungkin artinya amat berbeda. tidak mungkin kata dari sumber yang suci sama dengan kata yang datang dari tempat lain.

Hati hanya hidup apabila ia menerima benih penyatuan dari sebuah hati yang hidup, karena benih seperti itu adalah sehat, dan hidup. tidak ada apapun dapat tumbuh dari benih hati yang kering dan tak bernyawa. kalimat suci La ilaha illallah yang di sebut dalam dua tempat dalam Al_Qur'an adalah sebuah bukti :

إِنَهُمْ كَانُوْآ إِزَاقِيْلَ لَهُمْ لَآ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ وَيَقُلُوْنَ أَإِنَّا لَتَارِكُوْااَلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُوْنٍ .الصافات
Artinya : "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, La ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak di sembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata:' Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang panyair gila".

Inilah maqom orang awam, yang baginya menampakkan lahiriyah, termasuk exsitensi lahiriyah adalah miliknya sendiri dan menjadi sembahan-sembahan.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْلِزَنْبِكَ وَالِلْمُؤْامِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتٍ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ. محمد ١٩
Artinya : "Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan Yang Haq melainkan Allah dan memohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu".(Qs.Muhammad : [47] : 19)

Firman Allah ini petunjuk bagi orang-orang mukmin yang suci dan takwa kepada Allah

Sayyidina Ali meminta kepada Nabi Saw untuk mengajarkan cara termudah, paling bernilai, paling dekat (segera) kepada keselamatannya. Nabi Saw menunggu malaikat Jibril as membawakan jawaban dari sumber Tuhan. Dia datang dan mengajarkan Nabi Saw untuk mengatakan "La ilaha illallah" tidak ada Tuhan sambil memalingkan wajahnya ke kanan, dan mengatakan 'illallah kecuali Allah semata' sambil memalingkan wajahnya ke kiri, ke arah hati sucinya yang diberkati. Dia mengulang hal itu sebanyak tiga kali. kemudian dia mengajarkan kalimat syahadat ini dalam sikap yang sama kepada para sahabatnya. Sayyidina Ali ra merupakan sahabat yang pertama meminta untuk hal itu dan pertama-tama di ajarkan.

Suatu hari ketika mereka baru saja kembali dari sebuah perang besar, Nabi Muhammad bersabda kepada para pengikutnya : "Kita telah kembali dari sebuah peperangan kecil menuju perang yang lebih besar".

Hal ini mengindikasikan adanya perjuangan melawan nafsu seseorang, kesenangan diri yang rendah, yang merupakan makna dari kalimat syahadat. "Musuh terbesarmu" dia bersabda, "berada di bawah tulang igamu".

Cinta ilahiyah tidak akan hidup dalam dirimu sampai musuh, kesenangan jasmanimu mati dan meninggalkan dirimu.

Pertama-tama engkau harus bersih dari ego yang memerintahkan dirimu pada kejahatan maka engkau masih memiliki kesadaran, meskipun meneruskan perbuatan dosa. Engkau akan memiliki perasaan bersalah, tetapi hal ini belum cukup. engkau harus melewati tahap itu ke tingkat ketika kebenaran akan di wahyukan kepadamu. kebenaran tentang benar dan salah. kemudian engkau akan berhenti melakukan kesalahan dan mengerjakan yang benar sehingga dirimu akan menjadi bersih. Untuk melawan syahwat engkau harus memerangi keinginan-keinginan hewani-kerakusan, tidur berlebihan, kegiatan tak berguana-dan melawan sifat binatang liar dalam dirimu, hal-hal yang negatif, kemarahan, perkelahian, sifat agresif. kemudian engkau harus membersihkan dirimu sendiri terhadap kebiasaan jahat ego, arogansi, kebanggaan diri, iri hati, balas dendam, kerakusan, dan semua penyakit tubuh dan hati lainnya.

Hanya orang-orang yang benar-benar bertobat yang dapat melakukan hal itu, bersih serta murni.

إِنَّ اللَّهَ مُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَمُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ. البقرة ٢٢٢
Artinya : "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang kembali kepada-Nya secara terus-menerus (dalam penyesalan) dan Dia menyukai orang-orang yang menyucikan diri mereka sendiri".
[Qs.Al-Baqoroh [2] : 222]

Dalam bertobat seseorang harus sungguh-sungguh sehingga penyesalannya tidak abstrak dan umum, dan tidak termasuk dalam ancaman yang di nyatakan Allah,. Tidak peduli betapa banyaknya mereka menyesal, mereka tidak betul-betul (sangat) menyesal, dan penyesalan mereka tidak di terima."

Hal ini menunjuk kepada orang-orang yang hanya mengucapkan kata-kata penyesalan, tetapi tidak pernah tahu kedalaman dosa mereka, tidak pula bersumpah untuk tidak melakukan dosa itu lagi, tidak pula mengambil suatu tindakan. itu penyesalan yang biasa, penyesalan lahiriyah, yang tidak menembus sebab-sebab dari dosa. orang-orang seperti ini seolah-olah mencoba untuk membersihkan rumput dengan memotongnya di tanah dari pada menggali keluar (mencabut) akarnya. dengan melakukan hal ini, mereka malah membantunya untuk tumbuh lebih baik. orang yang menyesal niscaya mengetahui kesalahannya dan sebab-sebab dari kesalahannya dan berharap untuk membersihkan dirinya sendiri dari kesalahan ini, mencabut keluar akar-akar dari tanaman yang merusak ini.

Apabila telah tercabut, ia akan kering dan tidak akan kembali tumbuh lagi. sekop yang di gunakan dalam penggalian akar, penyebab dari dosa seseorang, adalah ajaran spritual yang di terima dari seorang menanam buah-buahan. Firman Allah dalam surah (Al-Hasyr [59] : 21)

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. الحشر٢١
Artinya : "....dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir".

وَهُوَالَّزِى يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوْعَنِ السَّيِّأَتِ وَيَعْلَمُ مَاتَفْعَلُوْنَ. السورى
Artinya : "Dia-lah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Qs. Asy-Syura [42] : 25)

إِلاَّ مَنْ تَبَ وَاَمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحًا فَأُؤْلَءِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّاَتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوْرًرَحِيْمَاً. الفرقان
Artinya : "Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal soleh, maka kejahatan mereka di ganti Allah dengan kebijakan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs.Al-Furqon : [25] : 70)

Ada dua jenis tobat yaitu tobat orang-orang awam dan tobat orang-orang yang benar beriman. 

  • Tobat orang-orang awam mengharapkan untuk meningalkan perbuatan-perbuatan jahat menuju pada kebenaran melalui mengingat Allah dan melakukan usaha-usaha yang serius, meninggalkan keinginan dan kesenangan jasadnya dan memaksakan kesulitan-kesulitan terhadap egonya. dia harus beralih dari pemberontakan yang angkuh melawan perintah Allah menuju ketaatan. itulah penyelesaiannya yang dapat membawanya dari api neraka ke syurga firdaus.


  • Sedangkan orang yang benar-benar beriman, hamba-hamba Allah sejati, secara keseluruhan memiliki maqom yang berbeda. pada tingkat kebijakan ilahiyah mereka jauh lebih tinggi dari pada maqom yang terbaik dari orang awam. Sesungguhnya bagi mereka tidak ada langkah yang lebih panjang lagi untuk di tempuh. mereka telah mencapai kedekatan dengan Allah. mereka telah meninggalkan kesenangan dan keuntungan dunia ini dan mencicipi rasa kesenangan dari alam spiritual cita rasa akan keakraban dengan Allah, kesenangan memandang esensi-Nya dengan 'ainul yaqin.

Persepsi orang-orang awam adalah dunia biasa dan kesenangan mereka adalah merasakan manfaat materi dari keberadaan materil. Namun, exsistensi manusia secara materil dan dunia materi juga merupakan sebuah kesalahan, maka demikian pula manfaat dan kesenangan darinya. sebagaimana kata-kata orang besar, "Keberadaanmu adalah seperti sebuah dosa, semua dosa lainnya adalah kecil dalam perbandingan dengannya". orang bijak sering menegaskan bahwa banyak perbuatan baik yang di kerjakan oleh orang-orang baik yang tidak mencapai tingkat keakraban dengan Allah tidak lebih baik dari pada kesalahan-kesalahan orang-orang yang telah dekat kepada Allah.

Dengan demikian, kita harus senantiasa memohon ampunan atas kesalahan-kesalahan tersembunyi yang kita duga sebagai perbuatan baik. Nabi Saw yang tidak memiliki dosa pun tetap meminta ampunan seratus kali sehari. Subahanallah. Wallahu a'lam bissowab...... Semoga bermanfaat.



Sumber : Kitab Al-Lujainid karya Syekh Ja'far Al-Barzanji - Al-Gunyah Sirur Asror Karya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dan Rijalul Fikri karya Syekh Abdul Hasan Ali Al-Hasaniy An-Nadwiy.












   
Share:

Senin, 04 September 2017

Jerat Kapitalisme Dalam Da'wah

Kapitalisme tidaklah berasal dari dunia Islam, karena kapitalisme sendiri lahir hanya setelah ditemukannya mesin, yang kebetulan di ciptakan di eropa.

Kapitalisme di masukan ke dunia islam pada masa islam berada di bawah dominasi eropa. bersamaan dengan arus perkembangannya, kapitalisme merembes ke dalam dunia Islam yang tengah menderita kemiskinan, kebodohan, penyakit dan keterbelakangan.

Keadaan ini menyebabkan sebagian orang berpikir bahwa Islam membenarkan kapitalisme dengan segala kebusukan dan manfaatnya. mereka juga menuduh bahwa tidak terdapat fasal-fasal di dalam hukum islam dan peraturan islam yang bertentangan dengan kapitalisme. mereka berdalih bahwa karena islam membolehkan pemilikan perseorangan, maka tentunya islam memperbolehkan pula kapitalisme.

Untuk menjawab tuduhan ini kiranya cukup di tegaskan bahwa kapitalisme tidak bisa tumbuh dan berkembang tanpa riba dan monopoli yang kedua-duanya kira-kira 1000 tahun sebelum kapitalisme tumbuh telah di larang oleh islam

Persaingan yang ketat yang menjadi ciri lain dari kapitalisme itu, menyebabkan hancurnya perusahaan-perusahaan kecil atau terpak menggabungkannya ke dalam perusahaan-perusahaan besar. hal ini mendorong ke arah monopoli, yang juga di larang oleh islam, sebagaimana yang telah di tagaskan oleh Rosulullah Saw, "Barangsiapa yang memonopoli adalah orang yang salah". karena islam melarang riba dan monopli, maka tidak mungkin kapitalisme berkembang di dalamnya. apa lagi untuk sampai pada tingkat kejahatan seperti sekarang ini, yaitu penghisapan.

Yang lebih memilukan bahwa kapitalisme pun ternyata merambah ke dalam sisi-sisi da'wah islam bagi para juru da'wah nya, mereka tidak sadar kalau dirinya di jadikan sebagai komoditas yang cuma akan memberi keuntungan luar bisa bagi kaum kapitalis. mereka dihisap dan terus menerus dieksploitasi lewat media industri pertelevisian, mereka di kemas seakan-akan sedang berda'wah menyadarkan umat, mereka dipaksa berpolah tingkah mengikuti keinginan sang sutradara dan produser yang telah belajar banyak bagaimana memperkosa hak kemandirian orang dalam berda'wah melalui agama modern yang di anutnya, dialah kapitalisme.

Entah apa sesungguhnya wajah islam yang sedang di pentaskan di depan publik dewasa ini saat kebohongan da'wah semakin tersingkap jelas.

Da'wah yang di pesankan Rosulullah Saw. sebagai senjata tajam untuk menghujam keterpurukan moralis umat sudah tidak menjadi idealisme lagi. Da'wah bukan lagi sebagai kewajiban, tapi semakin bergeser ke arah titipan kemauan sang pemodal kaum kapitalis yang akan meraup keuntungan yang siap hengkang meninggalkan sang da'i korban saat sinarnya semakin redup di telan kejenuhan pemirsa. padahal entah sudah berapa rupiah sang kapitalis da'wah itu meraup keuntungan saat sang da'i berbinar-binar.

Sebagai kesimpulan, kapitalisme yang mengerikan merajarela di dunia islam hingga ke medan da'wah bukanlah merupakan bagian dari islam. dengan demikian islam tidak bisa di bebani tanggung jawab atas kejahatan-kejahatan kapitalisme itu. dan bagi para korban, kembalilah merenungi makna da'wah yang sesungguhnnya.




Share:

Kamis, 24 Agustus 2017

Wahabi-Salafi-Neo Khawarij


Mari kita telaah dahulu apa saja yang sering kali di bid'ah sesatkan wahabi ?. Antara lain :
  • Melarang dan mengharamkan adzan kedua dalam shalat jum'at. padahal Khalifah Utsman bin Affan ra, yang menganjurkan adzan jum'at dua kali, bukankah para Khulafaur Rasyidin mendapat jaminan dari Nabi Saw. 
    عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَومًا بَعدَ صَلاَ ةِ الْغَدَاةِ مَوعِظَةً بَليغَةً ذَرَفَتْ مِنهَا العُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوعِظَةً مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْحَدُ إِلَينَ يَا رَسُولُ اللهِ قَالَ أُو صِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَطَاعَةِ وَإْنْ عَبْدٌ حَبِشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِن كُمْ يَرَى اخْتِلَل فاَ كَثِيرًا وَإِيَاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَاضَلَ لَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِن كُمْ فَعَلَيهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاَءِ الرَاشِدِينَ الْمَهْدِيِّنَ عَضُّوا عَلَيهَا بِالنَّوَا جِذِ قَالَ أَبُوعِيسَى هَذَا حَدِيثُ حَسَنٌ صَحِيحٌ
"Dari Irbad bin Sariyah ra berkata : Rosulullah Saw pada suatu hari  sehabis sholat subuh beliau menasehati kami dengan nasehat yang cukup keras yang membuat mata menangis hati bergetar. kata seorang lelaki, "Sesungguhnya ini adalah (seperti) nasehat seorang yang ingin berpisah, apa yang akan kau sampaikan kepada kami ya Rosulullah." (kata beliau), "aku berwasiat kepada kalian bertaqwalah kepada Allah, mendengar dan taat sekalipun (yang memerintah itu) adalah seorang budak habasyi, sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian dia akan melihat banyak perselisihan, hindarilah perkara-perkara yang baru karena itu adalah sesat, maka siapa diantara kalian yang mendapati itu, maka berpeganglah kalian dengan sunahku dan sunah khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi gerahammu." (HR.Imam Abu Daud, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Thurmudzi : mengatakan bahwa hadist ini adalah hasan shahih)
  • Mengharamkan membaca shalawat kepada Nabi Saw, setelah adzan padahal dalam hadist yang di tegaskan: 
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرِوبْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ اَلْمُوءَذَّنُ فَقُولُوا مِشْلَ مَايَقُولُوثُمَّ صَلُّواعَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَ ةً صَلَّى اللهُ عَلَيهِ بِهَا عَشْرًاثُمَّ سَلُوااللهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَ مَنْجِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي اِلَّالِعَبْدٍمِنْ عِبَادِاللهِ وَأَرْجُوأَنْ أَكُونَ أَنَاهُوَفَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةََ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاَ عَةِ
Dari Abdillah bin Umar bin-Al-Ash, Sesungguhnya ia mendengar Nabi Saw berkata : "Apabila kalian mendengar muadzin (mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan kemudian bershalawatlah kepadaku, karena barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah untuk ku, karena wasilah itu adalah sebuah tempat di dalam syurga yang tidak layak melainkan untuk seorang hamba dari para hamba Allah, dan aku berharap aku adalah dia, maka barangsiapa yang memohon wasilah untukku maka halal baginya mendapat syafaat (HR.Imam Muslim)

  • Wahabi melarang dan mengharamkan membaca Al-qur'an untuk mayit muslim meskipun surat Al-fatiha. padahal tidak ada penjelasan dalam syari'at yang mengharamkan itu, bahkan Nabi Saw menganjurkan untuk membacanya, seperti hadist :
اقرءوعلى موتاكم يس
"Bacalah surat yasin atas orang yang sudah mati kalian" 
  • Wahabi mengharamkan menggunakan tasbih, padahal ketika Nabi Saw lewat dihadapan seorang wanita yang sedang bertasbih dengan kerikil, beliau sama sekali tidak mengingkari. (Hr. Imam Thurmudzi, Imam Thabrani dan Ibnu Hibban)
  • Wahabi mengharamkan membaca tahlil saat mengantar jenazah, perhatikan firman Allah dalam surat (Qs. Al-Ahzab : 41-42) 
    يَأَيُّهاالَّذِينَءَامَنُوااذْكُرُوااللهَ ذِكْرًاوَسَبِّحُوهُ بُكْرَةًوَأَصِيلاً
"Wahai orang-orang yang beriman berdziqirlah kalian kepada Allah sebanyak-banyaknya, dan sucikanlah Dia pada pagi dan sore hari"
  • Wahabi mengharamkan dan menganggap bid'ah sesat kepada kaum muslimin yang mengadakan peringatan maulid Nabi Saw. yang didalamnya dibacakan tentang sejarah Nabi dari lahir hingga perjuanganya yang terdapat di dalam kitab-kitab rawi, juga membaca Al-qur'an, memberi makan kepada kaum muslimin (kaya atau fakir). setidaknya Al-qur'an menganjurkan yang demikian itu, lihat firman Allah dalam surat (Qs.Al-Hajj :77)
يَأَيُّهاالَّذِينَءَامَنُواآرْكَنُواوآسْجُدُواْوَآعْبُدُواْرَبَّكُمْ وَآفْعَلُواْآلْخَيرَلَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan"

Rosulullah Saw bersabda:
قَالَ رَسُولٌ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ : مَن سَنَّ فِي اْلإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَابَعْدهُ كُتِبَ لَهُ مِشْلُ أَجْرِمَن عَمِلَ بِهاَ ولَايَنْقُصُ مِنْ أٌجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَن سَنَّ فِي اْلإِسْلَامِ سُنَّةً سَئَِّةً فَعُمِلَ بِهَابَعْدهُ كُتِبَ عَلَيهِ مِشْلُ وِزْرِمَن عَمِلَ بِهَا وَلَايَنْقُصُ مِن أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
"Barangsiapa yang mengadakan perbuatan dalam islam berupa perbuatan baik, kemudian diamalkan kebaikan itu setelahnya maka ia akan mendapat pahala kebaikan itu seperti pahala orang yang mengamalkanya tanpa dikurangi sedikitpun pahalanya. dan siapa yang mengadakan dalam islam berupa perbuatan yang jelek, kemudian kejelekan itu diamalkan setelahnya maka ia pun akan mendapat dosa seperti dosa orang yang mengamalkanya tanpa sedikitpun dikurangi dosanya." (Hr.Imam Muslim).
  • Wahabi melarang dan mengharamkan memohon syafa'at dan bertabaruk (mencari berkah) dengan peniggalan-peninggalan Nabi dan orang-orang saleh. padahal tidak ada sedikitpun keterangan baik Al-qur'an maupun Al-hadist yang melarang seseorang memohon syafaa'at dan bertabaruk, seperti dalam sebuah hadist diterangkan: Dari Anas bin Malik ra. "aku memohon kepada Nabi Saw, agar beliau memberikan syafa'at bagiku pada hari kiamat, jawab Nabi "Aku akan lakukan itu. (Hr.Imam Turmudzi)
Demikian juga dengan persoalan tabaruk. Rosulullah Saw pada saat haji wadanya, beliau mencukur rambut kepalanya lantas bicara kepada yang mencukur, "Bagikan rambut-rambut ini, orang itupun membagikan rambutnya diantara para sahabat.

Kemudian pada saat beliau melaksanakan umroh setelah haji wadanya, khalid bin walid pun mengambil rambut ubun-ubun Rosulullah Saw, semata-mata mengambil berkah dan ia letakan di dalam pecinya. suatu saat ia kehilangan rambut Rosulullah dalam peperangan dan terus mencari hingga ketemu, saat itu ia berkata, "didalam peciku ada rambut Rosulullah Saw, dan selama rambut itu bersamaku dalam peperangan, aku selalu mendapat pertolongan". (Hadist dikeluarkan oleh Abu ya'la dalam Musnadnya).

Atau yang pernah dilakukan istri Rosululla Saw, Asma binti Abu Bakar ra, yang pernah merendam jubah Rosulullah Saw untuk kemudian airnya dibagikan kepada mereka yang sakit. (Hr. Imam Muslim).

Juga terhadap Sahal bin sa'ad ra. yang bertabaruk dengan selendang Nabi Saw, "Aku pinta selendangnya untuk aku jadikan kain kafanku kelak aku mati." (Hr.Imam Bukhori)

Teristimewa dalam Al-qur'an tentang Nabi Ya'kub as, yang bertabaruk dengan baju gamis Nabi Yusuf as (putranya).
آذْهَبُواْ بِقَمِيصِى هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْْهِ أَبِى يََأتِ بَصِيرًا وَأْتُونِى بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ
"Pergilah kamu dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakanlah Dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali; dan bawalah keluargamu semuanya kepadaku." (Qs. Yusuf : 99)
  • Wahabi meng-klaim bahwa merekalah sesungguhnya Ahlus Sunnah Wal Jamaah adapun kelompok diluar mereka adalah bid'ah sesat.
Kalau mereka mau mengkaji, sesungguhnya pelaku bud'ah sesat itu mempunyai karakteristik antara lain :
  • Menggunakan ayat Al-qur'an yang sebenarnya ditujukan kepada orang kafir untuk mengkafirkan kaum muslimin, seperti ayat yang berbunyi :
    ومن أضل ممن يدعوا من دون الله من لا يستجيب له إلى يوم القيمةوهم عن دعآ ءهم غفلون
"Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat mengabulkan doanya sampai hari kiamat dan mereka lari dari (memperhatikan) doa mereka" (Qs. al-Ahqaf : 5)

"Dan janganlah kamu bedoa (menyembah) apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat begitu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zhalim"

"Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar, dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, meliankan seperti orang yang membukakan kedua telapak tanganya kedalam air supaya sampai air itu kemulutnya, padahal air itu tidak sampai. dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka. (Qs.ar-Ra'du :14).

Komentar ulama, "ayat-ayat diatas sebenarnya turun kepada orang-orang kafir dimana mereka berkeyakinan bahwa patung-patung yang mereka sembah itu berhak dipertuhankan dan mengagungkanya sebagaimana mengagungkan Tuhan sekalipun mereka meyakini bahwa patung-patung tersebut tidak bisa menciptakan apa-apa. sementara kaum muslimin tetap berkeyakinan bahwa Sang pencipta yang dapat memberikan mudarat dan manfaat dan yang berhak disembah adalah Allah.

Dengan demikian berdalil mengkafirkan kaum muslimin dengan ayat-ayat tersebut di atas adalah tidak benar sebab mereka sama sekali tidak menjadikan para Nabi dan para wali sebagai Tuhan dan sekutunya, mereka adalah hamba Allah dan makhluk-Nya yang tidak patut di sembah.

Dalam hadist yang bersumber dari Ibnu Umar ra, Rosulullah Saw dalam mensifati kaum khawarij berkata : "Mereka sering mengalihkan ayat-ayat Al-Qur'an kepada orang-orang yang beriman yang sebenarnya diturunkan kepada orang-orang kafir.

Dalam riwayat lain yang juga berasal dari Ibnu umar ra. Nabi Saw berkata "Yang paling aku kwatirkan atas umatku adalah seseorang yang men'tawilkan sebagian ayat Al-qur'an bukan pada tempatnya."
  •  Mudah memusyrikan dan mengkafirkan kaum muslimin.
Dalam hadits disebutkan, "Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya, maka akan kembali kepada salah satunya ( bisa kepada yang dikafirkan kalau benar kenyataanya ) tapi kalau kenyataanya tidak demikian maka kekafiran itu akan kembali kepada orang yang meng-kafirkan itu. "(Hr.Imam Muslim)

Syekh Abu Bakar al-Baqillani (seorang ulama tokoh sunah wal-jama'ah) mengatakan," Mengislamkan seribu orang kafir dengan satu kesubhatan lebih ringan dari pada meng-kafirkan seorang muslim dengan seribu kesubhatan"

Artinya, dosa meng-kafirkan satu orang islam dengan tuduhan-tudahan yang tidak jelas lebih besar dari pahala meng-islamkan seribu orang kafir dengan satu cara yang tidak jelas (subhat). lain halnya bila ada yang meng-kafirkan seorang dengan tuduhan yang jelas, seperti orang tersebut mengakui kenabian Nabi Mirza Ghulam Ahmad, Mushaddiq, Lia Eden, Tugimin, dan para nabi palsu lainnya.

Paragraf Yang Hilang dalam Tafsir ash-Shawy  :
Ayat ini (surat al-kahfi ayat 6) diperuntukan pada kelompok al-khawarij yang se enaknya menta'wilkan Al-Qur'an dan As-Sunah, mereka halalkan darah dan harta kaum muslimin. di era sekarang pun ada, yaitu firqoh wahabiyah yang mengklaim berada dalam kebenaran, padahal mereka adalah para pendusta yang dikuasai syetan dan di buat lupa dziqir kepada Allah, mereka sebenarnya adalah bala tentara syetan dan kelompok yang rugi. kami memohon kepada Allah agar mencabut mereka hingga keakar-akarnya.
  • Wahabi / Salafi menetang transfer pahala melalui ritual tahlillan, ziarah kubur, talqin dan haul yang biasa di lakukan kaum muslimin dengan alasan bahwa tidak ada lagi kiriman pahala dari yang hidup kepada yang mati. padahal Al-Qur'an perintahkan kita mendoakan saudara-saudara kita se-iman yang telah tiada.
 وَالَّزِيْنَ جاَءُا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِءِخْوَانِنَا الَّزِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْأِيْمَانِ
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلَّآ لَّلَزِيْنَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَْكَ رَءُوفٌ رَّحِيْمٌ

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa : "ya Tuhan kami, beri ampun kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahulukan kami dengan ke-imanan dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Hasyar : 10)

Kalimat saudara-saudara kami yang telah mendahulukan kami berarti transfer pahala itu ada dan sampai dari yang hidup kepada yang mati, dengan catatan yang kita doa kan adalah yang se-aqidah dengan kita, ini di pahami dari kalimat dengan ke-imanan. padahal Nabi SAW berbicara tentang hubungan yang hidup kepada yang sudah wafat, seperti hadits di bawah ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَجُللً قاَلَ لِلنَّبَيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمْ إِنَّ أَبِي ماَتَ وَتَرَكَ مَاللً وَلَمْ يُوصِ فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ قاَلَ نَعَمْ

"Dari Abu Hurairah ra, "Sesungguhnya seorang lelaki bertanya kepada Nabi Saw. ayahku telah meninggal dunia dan meninggalkan harta sementara dia tidak berwasiat, apakah berguna seandainya aku bersedekah untuknya, jawab beliau "ya" (Hr.Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Nasai dan Ibnu Majah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولُ اللَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمْ قَالَ إِزَا مَاتَ الْلءِنْسَانُ اِنْقَطَعَ اَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ صَدقَةُ جَارِيَةُ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَو وَلَدٍ صَلِحٍ يَدْعُولَهُ

"Dari Abu Hurairah ra, Rosulullah Saw berkata, "Apabila manusia mati maka terputuslah semua amal ibadahnya kecuali tiga hal : 
  1. Sedekah Jariyah
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak sholeh yang mendoakannya.
(Hr.Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasai, dan Imam Turmudzi).

Coba fahami baik-baik pengertian hadits ini.
Dalam hadits ini disebut kalimat terputus amal ibadahnya. ibadah mana yang terputus...? yaitu ibadah yang pernah di lakukan waktu di dunia tentunya, baik solat, zakat, puasa, haji dan sebagainya dari amal kebajikan. artinya ketika dia wafat semua amal tersebut sudah tidak di jalankan lagi di alam kubur, mengingat kubur adalah darul jaza (negeri pahala) bukan darul 'amal (negeri beramal/beribadah). yang di kubur sedangkan menikmati pahala yang pernah di lakukan. termasuk pahala yang akan di nikmati adalah kiriman (transfer) pahala dari yang hidup baik berupa doa atau harta yang di sedekahkan yang pahalanya diperuntukan bagi si mayit, sebagaimana hadits-hadits di atas tadi.
 
 


Share:

Pesan Moral Keluarga Ibrahim as

 فَلَمَّابَلَغَ مَعَهُ السَّعيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِى الْمَنَامِ أَنِّى أَزْبَحُكَ فَانْظُرْ ماَزَا تَرَى
قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُوءمَرُ سَتَجِدُ نِي إِنْ ثَاءَاللَّهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

Artinya :
"Maka tatkala anak itu (pada umur sanggup) berusaha bersama Nabi Ibrahim, Ibrahim Berkata : Hai Anak ku sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu, ia menjawab : wahai ayahku kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kau dapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS : As-Shaaffat ayat 102)

Setidaknya ada beberapa pesan moral yang bisa kita petik dari rangkaian peristiwa yang terjadi pada Nabi Ibrahim as dan keluarganya.

  • Mutlak dibutuhkan sikap sabar dalam menjalankan perintah Allah SWT disamping harus bersyukur atas segala karunia yang diberikan. dalam ayat diatas di gambarkan ketegaran dan kesabaran Nabi Ibrahim as dan anaknya Ismail as dalam menjalankan perintah Allah SWT. kemudian dengan rahmat Allah SWT jasad Ismail as diganti se ekor kambing kibas seraya keduanya bersyukur atas karunia yang diberikan. kemutlakan sikap sabar ini terungkap dalam sabda Rosulullah Saw :
الايَمَانُ نِصْفَانِ فَنِصْفٌ فِي الصَّبْرِ وَنِصْفٌ فِي الشُّكْرِ
  
Artinya:
"Iman itu dua bagian, sebagian ada dalam sabar dan sebagian lagi ada dalam syukur" (HR :Baihaqi dari Anas bin Malik ra)

Berbagai peristiwa alam dan  sosial terus melanda negeri kita sebutlah seperti gempa dan gelombang tsunami, banjir, krisis pangan, kerusuhan di berbagai kota dan daerah, maraknya unjuk rasa, bergantinya semua harga barang kebutuhan dan BBM, pengangguran, PHK besar-besaran, meningkatnya angka kriminalitas, hutang luar negeri yang berada di batas kewajaran dan lain sebagainya. Ada baiknya kita semua introfeksi diri (muhasabah)

Apakah kita sebagai makhluk Allah SWT telah sungguh-sungguh menjalankan perintah dan menjauhkan larangan-Nya...? perintah untuk berbuat adil dan kebaikan serta menjauhkan kemunkaran terkadang hanya menjadi lagu wajib para khotib di atas mimbar. berbagai bentuk menyimpangan birokratis maupun sosial sudah menjadi hal yang sangat lumrah bahkan cenderung menjadi budaya negeri ini, sebutlah seperti praktek korupsi, kolusi, manipulasi, arogansi, pornoaksi, pornografi, dan bentuk kemaksiatan dan kemunkaran lainya yang merupakan penomena yang harus segera di akhiri..! bukankah turut melanggar perintah Allah adalah bagian dari manuver dan propaganda syaitan...! tengoklah kembali napak tilas melempar jumroh, bukankah peristiwa itu merupakan simbol dan cerminan keluarga Ibrahim as dalam menentang segala bentuk propaganda syetan...? disambitnya syetan berkali-kali yang selalu membujuk melanggar perintah Allah SWT.

Apakah hita sebgai makhluk Allah telah benar mensyukuri nikmat dan karunia-Nya. Syekh Srirry Siqthi ketika bertanya kepada seseorang muridnya (Syekh) Junaidi al-Bagdady di usia tujuh tahun, 'hai anak, apa itu syukur..? syukur adalah bahwa segala nikmat yang diberikan'. kekayaan, ilmu pengetahuan, jabatan adalah nikmat sekaligus amanat yang harus dipergunakan sesuai jalurnya. tidak sedikit manusia yang di berikan semua itu justru menjerumuskannya ke api neraka lantaran di alokasikan pada jalan yang di murkai Allah SWT.

  • Mutlak di butuhkan kemitraan yang baik antara generasi tua dan muda. Al-Qur'an menggambarkan secara jelas tentang kebersamaan keluarga Ibrahim as. maka pikirkanlah apa pendapatmu...?
Untuk mencapai tujuan generasi tua harus bersikap demokratis dan dialogis kepada generasi muda. Demikan pula seorang pengusaha dengan rakyatnya atasan dengan bawahannya.
Tengoklah sikap Sayyidina Umar ra. ketika dinobatkan menjadi seorang khalifah, "Siapa diantara kalian yang melihat aku berbuat sewenang-wenang (dalam menjalankan roda pemerintahan), luruskanlah aku". saat beliau berkata demikian, berdirilah dua orang pemuda yaitu Bilal bin Rabbah dan Saman al-Farisy, lantas berkata : "Apabila kami melihat anda berbuat sewenang-wenang, kami luruskan dengan pedang..! Sayyidina Umar pun menyambut dan berkata : "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan seseorang dalam umat ini yang apabila aku berbuat sewenang-wenang, ia mau meluruskan ku dengan pedangnya. 

Demikian juga dengan generasi mudanya, selama memang generasi tua menjalankan kebijakan yang tidak bertentangan dengan perintah agama maka harus di dukung. seperti tergambar dalam peristiwa keluarga Nabi Ibrahim as, di mana ismail as (sebagai generasi muda) mendukung dengan perkataan "Sesuatu yang diperintahkan kepadamu niscaya kau dapati aku termasuk orang-orang yang sabar". Ismail as tahu kebijakan ayahnya tidak bertentangan dengan perintah Allah (bukan rekayasa) dalam sebuah hadists di sebutkan :

لَا طَا عَةَ فَي مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّا عَةَ فَي الْمَعْرُوفِ

Artinya :
"Tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah, ketaatan itu hanya dalam kebaikan".
(HR.riwayat Abu Daud dari Sayyidina Ali ra nomor 2625)
  • Mutlak di butuhkan peran aktif kaum wanita (kaum ibu). Ismail as yang tumbuh sebagai generasi muda yang sabar, tegar dan pintar, tidak lepas dari peran Siti Hajar sebagai ibunya dalam mendidik mental spiritual anaknya (tergambar dalam sejarah peristiwa sa'i) mengingat pada masa kanak-kanak menurut pemerhati ilmu jiwa (psikologi) adalah periode yang subur untuk tumbuhnya jiwa agama. semenjak dini seorang ibu harus menanamkan triologi iman-ilmu-amal (sikap-pengetahuan-perbuatan) sehingga nanti anaknya akan tumbuh sebagai generasi yang cerdas, berakhlak mulia dan terampil. sebaliknya jika seorang ibu kurang berperan, maka hanya akan memproduksi generasi muda yang tidak banyak di harapkan oleh agama dan masyarakat.
  • Mutlak tidak ada lagi korban manusia buat sebuah kepentingan ritual. terlalu mahal harga manusia untuk dikorbankan hanya ingin memuaskan sebuah praktek ritual. Allah SWT muliakan manusia seperti yang terjadi dalam peristiwa Ibrahim as dan putranya, dimana Allah menggantikan jasad Ismail as dengan se ekor kambing kibas.   






Share:


jadwal-sholat