"Lakukanlah apa yang bermanfa'at untuk dirimu dan berpegang teguhlah dengannya"

Selasa, 28 Juli 2015

Hakikat Syukur

Ada seorang raja yang terkenal baik hati pada rakyatnya. suatu ketika dia memanggil tiga rakyatnya dan membagikan seekor kuda kepada masing-masing mereka. kebaikan sang raja pun rupanya menimbulkan tiga kesan yang berbeda :
  • Rakyat yang pertama, hanya cukup gembira mendapat hadiah kuda dari sang raja bahkan baginya sama sekali tidak ada perbedaan seumpama kuda tersebut diperoleh dari hutan belantara, sebab baginya adalah kuda mau dapat dari raja atau dapat dari hutan sama saja.
 
  • Rakyat yang kedua, bukan sekedar gembira, ucapan terimakasih pun keluar dari mulutnya, baginya dia bukan sekedar raja dengan mahkota di kepala. rakyat ini demikian bahagia betapa rajanya begitu perhatian kepada dirinya.
 
  • Rakyat yang ketiga, berkesan melebihi rakyat yang pertama dan yang kedua, dia gembira karena mendapatkan hadiah kuda, ucapan terimakasih, baginya raja itu bukan sekedar orang yang bermahkota di kepala, penuh perhatian pada rakyat bahkan kuda tersebut dijadikan sebagai media untuk lebih mendekatkan dirinya pada raja, dan saking dekatnya suatu ketika raja menawarkan sesuatu kepada dirinya "Kamu mau menjadi menteri tapi tidak dekat denganku atau kepengen selalu dekat denganku walau tetap menjadi rakyat biasa". Dengan lantang dia menjawab : ingin selalu dekat denganmu walau tidak jadi menteri ".
Rakyat pertama tidak termasuk dalam katagori Syukur, rakyat kedua masuk katagori syukur sedangkan rakyat yang ketiga inilah yang dikenal dengan syukur betulan alias Hakikat syukur.
 
Demikian Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali dalam sebuah ilustrasinya.
 
Sumber : (Muhammad Yusuf Hidayat)
Kitab Syarah Hikam, oleh Muhammad Ibrahim.

Share:

Misteri Ikhlas

Orang sering menggambarkan ikhlas sebagai lawan dari riya dengan pergi ke WC membuang hajat dan tanpa pernah menengoknya lagi. Walau gambaran ikhlas ini terkesan konyol tapi demikian kira-kira ikhlas itu.

Sebagian ulama ditanya tentang ikhlas, merekapun menjawab bahwa ikhlas adalah seseorang menyembunyikan kebaikan-kebaikan sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukanya. sebagian ulama lain ditanya tentang puncak keikhlasan, dan dijawab bahwa ia tidak suka pujian orang.
Share:

Jumat, 24 Juli 2015

Fenomena Islam Jama'ah Gaya Baru

Syeikh Ibnul Mubarok seorang muhadist pernah berujar: "Sanad bagian dalam agama, seandainya tidak ada sanad (mata rantai atau silsilah keguruan) niscaya manusia sembarang berkata."

Begitu juga dengan Imam Nawawi dalam komentarnya : "Mencari sanad menjadi bagian penting, sudah semestinya bagi guru agama dan pelajar mengetahui sanad dan buruklah karena tidak mengetahui sanad, sesungguhnya guru agama adalah menjadi bapaknya dalam agama dan menjadi wasilah antara dirinya dan Robbul A'lamin."

Bahkan Ulama Salaf pun turut ambil bagian dan katanya : "Sanad ibarat pedang bagi yang berperang."

Fenomena memilukan yang sering muncul ditengah masyarakat mulai dari berbagai fatwa yang serampangan, munculnya berbagai ajaran sesat, obral ucapan bid'ah dholalah hingga sikap memusyrikan dan mengkafirkan kaum muslimin dan sebagainya. Salah satu faktornya adalah, mencukupkan diri dalam mempelajari ilmu agama dengan mengkaji sendiri atau berkelompok tanpa bimbingan seorang ulama. dan anehnya perilaku semisal ini justru sering muncul dari para civitas akademika. padahal dalam firman Allah ditegaskan :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِإِنْ كُنتُمْ لَاتَعلَمُونَ
"Tanyakan kepada ulama jika kalian tidak mengetahuinya" (Qs.an-Nahl: 43)
Jadi wajar bila pada akhirnya muncul celoteh para syufi, "Siapa saja yang mengkaji agama Islam tanpa bimbingan  seorang guru, maka syetanlah yang akan membimbingnya". Imam Dhailami meriwayatkan hadist yang bersumber dari Ibnu Umar ra. (Hadist marfu) "Ilmu itu agama, sholat itu agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu ini, sebab bagaimanapun kalian sholat maka sesungguhnya kalian akan ditanya pada hari kiamat nanti" (cara tersebut dari mana).

Bahkan lebih fatal lagi bila menghina karya para salafus sholeh yang dikenal dikalangan santri dengan sebutan kitab kuning, padahal kepakaran dan kapasitasnya  sudah mencukupi kenapa masih dipertanyakan.

Ada sebuah i'tibar : "Kipas yang sudah ada tinggal digunakan tapi malah pergi ke kebun bambu untuk membuat kipas, dibelahnya bambu itu, diracik dan seterusnya. hingga menjadi kipas, tapi ternyata kipas yang di buatnya lebih buruk dari brongsongan nangka".

Saudaraku,
Sanad dalam wacana ilmu Hadist adalah jalan menuju teks hadist atau mata rantai para perawi yang menukil dari sumber pertama. dalam dunia kepasantrenan bisa berarti sandang seorang murid dalam mengambil ilmu kepada sang guru dan seterusnya yang disebut silsilah keguruan.

Begitu pentingkah silsilah keguruan itu ? Bukan sekedar penting seperti komentar diatas tadi, tapi segudang keberkahan (nilai tambah) akan diperoleh. ada beberapa hal yang patut dicatat sang murid yang jelas silsilah keguruanya :
  • Lebih mantap dalam melangkah da'wah
  • Terhindar dari sikap egoistis (ke-akuan)
  • Futuhat (terbuka cakrawala pemikiran & pemahaman
Lebih Mantap Dalam Melangkah Da'wah.
Betapa tidak karena kajian yang akan disajikan ke tengah umat sumbernya cukup jelas juga lebih dapat di pertanggungjawabkan. seperti halnya ketika Nabi Saw mengerjakan cara sholat kepada sahabatnya, :Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat Aku melaksanakan sholat" (Hr. Imam Bukhori)

Kemudian apa yang disaksikan sahabat disampaikan kepada tabi'in dan terus hingga generasi sesudahnya.

Imron bin Husain ra ketika mengajar hadist di tengah jama'ahnya, tiba-tiba datang seorang lelaki lantas berkata : "Tinggalkan ini, ajarkan saja kami Al-Qur'an !", mendengar ocehan lelaki tadi  Imron bin Husain tidak marah dan diapun balik bertanya, katanya: "Kalian semua membaca Al-qur'an, dari mana kalian tau tentang kaifiat (tata cara) sholat, pembagian zakat, haji dan sebagainya ?, mendengar Imron bin Husain berkata demikian, lelaki tadi terdiam. bahkan Imam Hasab Al-Basri dalam riwayatnya mengatakan: "Lelaki tersebut akhirnya menjadi ahli fiqih sebelum wafatnya."

Ayub as-Sahtiyani ra (68-131H) mengatakan, "Apabila kamu mengajarkan as-Sunnah kepada seseorang kemudian dia berkata, tinggalkan ini dan ajarkan saja kami Al-qur'an, maka ketahuilah orang tersebut telah sesat dan menyesatkan.

Saudaraku
Cerita dan komentar diatas tadi setidaknya menjadi cermin bagi sekian banyak orang berda'wah hanya bermodalkan Al-qur'an terjemah, tanpa pernah mau menengok hadist yang notabennya sebagai penjelas isi Al-qur'an, apa lagi membuka-buka tafsir yang dikarang para salafus shaleh, belum lagi perangkat-perangkat lain yang mutlak harus dikuasai semisal tata bahasa arab dll. Mampukah dirinya memahami isi kandungan Al-qur'an dengan benar tanpa dukungan semua itu...?
Kita sering memperhaitkan mereka yang katanya berslogan kembali kepada Al-qur'an, ternyata serba kebingungan ketika menghadapi ayat-ayat hukum (ayatul ahkam). Dan akhirnya yang mereka kaji adalah ayat yang sesuai dengan pola gerakanya, itupun ujungnya cuma untuk kepentingan politik dan menghantam orang lain. Bahkan ada yang berceloteh, "Kenapa tidak langsung saja ke Al-qur'an". Nah kita jawab, "Memangnya ilmu yang tersebar di berbagai kitab-kitab fiqih itu dari mana sumbernya kalau bukan dari Al-qur'an dan hadist, bahkan kita berani mengatakan bahwa kitab-kitab fiqih yang dikarang ulama salaf yang menjadi rujukan dunia pasantren adalah hadist bil ma'na. Mengapa,,,? coba selidiki sedikit wacana yang ada di kitab fiqih semisal Safinatun Naja-Ar-Riyadhul Badi'ah, Taqrib dll. ternyata mereka beristinbath dari ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadist.
Dalam hadist Nabi Saw dikatakan, "Siapa yang paling berani berfatwa adalah yang paling berani masuk neraka".
Apakah berani para ulama salaf itu berfatwa yang dituangkan dalam kitab fiqihnya tanpa dalil yang akan menyebabkan mereka terjungkal kedalam api neraka....? Tentu hanya orang dungu yang menuduh ulama salaf itu asal bunyi (asbun) tanpa dalil.
Yang memilukan dalam kreatifitas da'wah amburadul sebagian civitas akademika itu adalah upaya menjauhkan umat dari ulamanya. Hadist yang berbunyi : "Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat" menjadi sebuah doktrin da'wah yang dipraktekan secara tidak proporsional alias ngawur alias serampangan. Mengapa...? karena setiap orang di pahami harus mengajar agama walau dengan informasi seadanya. Akibatnya ketika mereka ditanya, ternyata yang keluar dari mulut mereka rupanya sederetan fatwa ngawur,asal bunyi, menafsirkan satu ayat tadi menurut hawa nafsunya, dengan ucapan yang biasa mereka lemparkan "ah" ini maudu', ah ini dhoif, ah ini ga ada hadistnya, ah ini bid'ah, ah ini musyrik dan segudang kata ah-ah yang lain.
Parahnya lagi mereka mengklaim sebagai Murabbi. (Panggilan Murabbi lebih cocok buat seorang Mursyid Thariqoh). Mengutip sepenggal pernyataan, "Laula Murabbiy ma'araftu Rabbiy" (Seandainya tidak ada Murabbi pasti aku tidak mengenal Tuhan-ku)".
Padahal tugas Murabbi sebenarnya adalah mengantarkan murid mengenal Allah Swt. mengarahkan murid untuk selalu ingat kepada Allah dan mengajak mereka mencintai yang senang ingat kepada Allah (berdziqir). dan lebih jauh lagi mencetak sang murid menjadi 'Arif billah. ini bisa difahami dari redaksi 'araftu dari akar kata arafa yang berarti menganal betul Allah, sebuah maqom musyahadah seperti halnya Syekh Abdul Qodir Al-Jailani serta para Aulia dan Anbiya.
Bukan bertindak sebaliknya dengan mencerca kaum muslimin yang gemar berdziqir dengan berbagai kemasanya berupa maulidan, istighasahan, tahlilan, tawasulan, haulan, ratiban, hiziban, yasinan, dan lain sebagainya yang syaratnya bermuatan dalil syar'i. Bukankah dalam kehidupan kita diperintah untuk banyak berdziqir..? Dan soal Modus, tentu banyak ragamnya selama tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syiar'i.

Dan cara rekrutmenya saja sudah mengisyaratkan gejala penipuan ilmiah. mereka merekrut pelajar dan kaula muda yang mayoritasnya masih sangat hampa agamanya dengan alasan lebih mudah untuk diwarnai. mereka enggan berhadapan dengan santri-santri yang sudah banyak dibekali ilmu agama, mereka takut bila saatnya diajak berdzakaroh dan diskusi apalagi berdebat untuk meng-kritisi doktirn-doktrin dongkal yang mereka perangi, padahal karekter imu itu sendiri terbuka untuk dikritisi.

Al-Hasil, produk tarbiyahnya dari yang kita saksikan ujungnya hanya mengkader robot-robot muda ditengah masyarakat dengan bermodalkan segudang doktrin-doktrin dangkal. penuh kesombongan, benar sendiri, bahkan berani mengkaflingkan syurga semenara para kyai dan santrinya mereka anggap para pelaku bid'ah sesat yang berhak masuk neraka. yang lebih menyeramkan lagi, mereka ikat sekuat-kuatnya para robot-robot muda itu untuk tidak terbuka dan bergaul dengan sesama, bergaul hanya pada lingkup mereka saja.

Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan dan programkan sebenarnya ingin menumbuhkembangan lagi islam jamaa'ah. atau mereka memang sedang menciptakan islam Jamaa'ah gaya baru..?

Inilah realitas yang sering kita saksikan di berbagai sudut-sudut kota. dalam sebuah hadis yang bersumber dari Abdullah bin Amar bin Ash ra. Aku  mendengar Rosulullah bersabda :
إِنَ اللهَ يَقبِضُُ الْعِلمَ ابْتِذَاعاًً يَنتَذِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وََلََكِنْ يَقبِضُ الْعِلمَ بِقَبْدِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَالَمْ يُبقِ عَالِمًا اتَّخَذَالنَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًافََسُءِلُوافَأَفْتَوْابِغَيرِ عِلْمٍ فَضَلُّواوَأَضَلُّوا
"Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu (agama) sekaligus dari para hambanya, tetapi melalui dicabutnmya (diwafatkan) ulama, hingga ketika Allah tidak mneyisakan satu orang ulamapun, saat itu manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimipinm, dan ketika mereka ditanya maka mereka berfatwa tanpa ilmu, hingga mereka sesat (buat dirinya) dan menyesatkan (buat orang lain). (HR.Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Dalam hadist yang lain yang sangat populer :

"Akan datang suatu masa pada umatku, mereka lari dari ulama dan ahli fiqih, maka (akhirnya karena kelakuan mereka) Allah menguji  mereka dengan tiga hal :
  • Allah mencabut (menghilangkan) keberkahan dalam usahanya
  • Allah kirim penguasa yang lalim
  • Mereka keluar dari dunia tanpa membawa  iman.
Dalam hadist lain yang bersumber dari Mughirah bin Syu'bah aku mendengar Rosulullah bersabda :
إِنَ اللهَ كَرِهَ ثَلاَثَا قِيلَ وقَلَ وَإِِضَاعَةَ الْمَالِ وََكَثْْرَةَ السُّؤَالِ
"Sungguh Allah membenci kalian atas tiga hal : 1.Perkataan "katanya (asal bicara). 2.Menyia-nyiakan harta dan 3.banyak bertanya.(Hr.Imam Bukhori -Imam Muslim)

Tiga hadist diatas setidaknya memberikan gambaran tentang akar kerancuan kreatifitas da'wah para civitas akademika diatas tadi yang di picu oleh :
  • Tidak adanya pakar (ulama) di lingkuangan mereka
  • Lari dari ulama ahli fiqih alias tidak pernah menggali ilmu agama secara benar melalui mereka
  • Berfatwa sembarangan tanpa dalil atau asal bicara dalam menjawab persoalan agama.
Barangkali  tidak akan menjadi persoalan sendainya saja mereka mau mendengarkan penjelasan ulama yang membimbing mereka. (mengaji) kemudian hasil pengajian tersebut disampaikan lagi  dengan penuh hati-hati yaitu sampaikan seperlunya dan tetap terus bertanya kepada ulama saat menghadapi persoalan yang sulit ditangani jawabanya, jangan menambah-nambah atau berfatwa sembarangan.

Disatu sisi kita bangga dengan ghirah keislaman yang demikian tinggi, disisi  lain cukup mengkhawatirkan dan memperhatinkan ketika mereka berda'wah hanya bermodalkan Al-quran terjemah, syukur kalau sekiranya masih mau mengaji kepada ulama. bahkan ada celoteh dari mereka, "ngapain mondok pasantren lama-lama, cukup sini ngaji dengan saya, sebentaran juga kamu jadi guru ngaji'. Inna lillahi, beginah corak da'wah sekitar kita...? di MUI saja ada komisi fatwa, di NU ada Lajnah Batsul Masail, di Muhammadiyah ada badan Tarjih, di alumni pasantren ada Mudzakaroh dan sederetan lembaga dan perkumpulan lain yang semuanya itu khusus menangani pertanyaan dan persoalan.

"Kata santri depok jangan pernah membuat dan menjual tahu, jika anda tidak pernah tahu membuat tahu."

Dalam persoalan Kilafiyyah Fiqhiyyah (perbedaan fiqih) saja ada etikanya, yaitu saat orang lain berbeda dalam acara amaliah ibadahnya. selama dia berpegang teguh kepada tuntutan syiariah, kita wajib menghormati dan penuh toleransi. Mengingat Khilafiyyah Fiqiyyah adalah sebuah realitas umat yang tidak bisa dipersatukan, yaitu masing-masing berpegang kepada ulama Mazhab yang di anutnya.
Cuma yang menjadi persoalan itu adalah ketika orang asal beda, yaitu perbedaan yang dilahirkan atas kemauan fatwa sendiri yang hanya bermodalkan Al-qur'an terjemah dengan tidak mengkaji kepada ulama apalagi mau menengok kitab-kitab lain untuk melihat pendapat ulama madzhab yang memang sudah ahli di bidangnya dengan berbagai perangkat dalil mulai dari bahasa, tata bahasa (Nahwu,shorof,balaghoh), kaidah usul fiqih, kaidah fiqiyyah, muhtahalul hadist, ulumul Qur'an dll.
Saudaraku
Alangkah naifnya sudah tidak punya perangkat untuk memahami isi kandungan Al-qur'an, serta merta mereka berda'wah hanya bermodalkan Al-qur'an terjemah dengan tidak melalui proses mengaji kepada seorang ulama. Nah, da'i karbitan mungkin julukan yang tepat buat mereka ini yang tidak henti-hentinya memecah belah umat islam.
Terhindar dari sifat egoistis
Pepatah "Di atas langit ada langit" atau celoteh budaya Hamka "Orang pintar itu sebenarnya kata si anu" setidaknya menjadi motifator untuk sang murid bersikap tawadhu. Sebab apapun yang dihasilkan itu wasilahnya adalah guru, walaupun bisa terjadi sang murid satu ketika lebih mumpuni, sebab ilmu di pacu oleh faktor siapa yang lebih banyak baca dan menerima informasi.
Seperti Nabi Musa as yang kontak merendah saat bertemu Nabi Khidir as, setelah mendapat pelajaran tentang sesuatu yang tidak sanggup dicernanya. (baca surat Al-Kahfi ayat 65:82)
Futuhat (terbukanya cakrawala pemikiran & pemahaman) Dipercaya atau tidak, inilah realita spiritual yang sering di alami oleh santri yang jelas silsilah keguruanya. "Setidaknya sebagai bukti dari kandungan hadist Nabi Saw : "Barang siapa yang mengamalkan sesuatu yang ia ketahui maka Allah akan mengajarkan ilmu yang belum pernah ia pelajari."
Dari mana titik singgung Futuhat dengan hadist ini ? dari hadist tadi terungkap kalimat "Mengamalkan apa yang ia ketahui" tentu melalui mediasi belajar yang di bimbing sang guru yang jelas kapasitasnya baik sanad maupun keilmuan. Sebab tidak mungkin Nabi menjamin bahwa Allah Swt. akan memberikan ilmu tambahan baginya, jika yang belajar ternyata mengambil ilmu sendiri tanpa pernah di bimbing sang guru tersebut.

Wallahu A'lam bis showab, dan semoga kita masih dalam kerangka cinta kepada ulama dan Allah jauhkan diri kita dari langkah-langkah syetan. Amin

(Sumber: Muhammad Yusuf Hidayat. KH.Ma'mur Murod)
Share:

Kamis, 23 Juli 2015

Hakikat Ibadah

Sebagaimana kita ketahui bahwa pemahaman keagamaan dari kalangan Wahabi-Salafi-Kaum khawarij Modern berbeda dengan mayoritas kaum muslimin. Hal ini Nampak misalnya dalam memandang hukum bertawassul dan ber-istighatsa, bahkan mereka tidak segan-segan menganggap musyrik terhadap bacaan-bacaan shalawat dan doa yang telah menjadi tradisi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah sejak masa salafus shaleh hingga dewasa kini.

Hakikat Ibadah
Secara etimologis (bahasa) para ulama mengartikan Ibadah dengan Makna ketundukan yang lahir dari puncak kekhusyuan, kerendahan diri dari kepatuhan kepada Allah Swt. Al Imam Abu Ishak Ibrahim bin Al-Sari al-Zajjaj (241-311 H/855-924 M) mengatakan :
العبادة فى فى لغة العربالطاعةمع الخضوع
"Ibadah dalam bahasa arab adalah ketundukan yang disertai kerendahan diri kepada Allah."

Al-Imam Abu Al-Qasim al-Husain bin Muhammad bin Mufaddhal yang dikenal dengan al-Raghib al-Ashfihani (w.502 H/1108 M) juga seorang pakar bahasa dan tafsir berkata dalam kitab Mu'jam Mufroodat Alfazh Al-Qur'an :
العبادغايةالتذلل
"Ibadah adalah puncak dari kepatuhan dan keendahan diri kepada Allah"

Al-Imam Al-hafizh Taqiyyudin al-Subki (683-756 H/1240-1355 M) Seorang pakar Fiqih, bahasa dan tafsir ketika menafsirkan ayat :
اِيَّاكَ نَعْبُُدُ
"Hanya engkaulah yang kami sembah" (Qs.Al-Fatiha :5) Berkata :
اي نخصك يالعبادةهى أقصى غايةاالخشوع والخضوع
"Yakni, Kepada-Mulah kami khususkan beribadah yang merupakan puncak dari rasa kekhusuan dan kerendahan"

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ibadah merupakan ketundukan, kepatuhan, puncak dari penghambaan diri dan kerendahan diri kepada Allah Swt. Ibadah dalam pengertian ini, tentu hanya diberikan kepada Allah Swt. tidak kepada yang lainya. disamping itu kita pun harus memahami tentang al-Khalik dan al-Makhluk, serta sederhana dapat ditegaskan bahwa al-Khaliq adalah Zat penentu segalanya, yang mendatangkan manfaat dan mudharat dan segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. ini adalah posisi Al-Khaliq yang tidak dimiliki Al-Makhluk. sedangkan makhluk hanyalah merupakan hamba yang sama sekali tidak memiliki kemaampuan untuk mendatangkan manfaat, bahaya, kematian, kehidupan dan lain sebagainya. Al-Qur'an menegaskan :
قُُلْ لَّآاَمْْلِكُ لِنَفْْسِيْ نََفْْعًا وََّلَاضَرًّا الَّامَاشَاءََاللهُُ وَلَوكُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيبَ لَاسْتَكْشَرْتُ مِنَ الْخََيرِومَا مَسَّنِيَّ السُُّوءُاِنْ اَنَاْ اِلََّانَذِيرٌوََّبَشِّيرٌلِّقَومٍ يُّؤمِ مِنُونَ
"Katakanlah: (Muhammad) "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali dikehendaki Allah. dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan di timpa kemudharatan. aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman" (Qs. Al-A'raf : 188)

Kesadaran akan posisi Al-Khaliq dan Al-Makhluk ini pada akhirnya menjadikan kita dapat menilai dangan pasti apakah praktek amaliah keseharian kita termasuk dalam katagori syirik atau tidak...? Ketika sesorang mencampur adukan posisi Al-Khaliq dengan Makhluk, misalnya dengan meyakini bahwa sebagian makhluk memiliki kemampuan untuk mendatangkan mudharat dan manfaat tanpa dengan izin Allah dan kehendak Allah, maka dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan telah melakukan perbuatan syirik yang nyata. Wallahu A'lam

(Sumber : Muhammad Yusuf Hidayat-KH. Ma'mur Murod)
Share:

Minggu, 19 Juli 2015

Tingkatan Manusia Dalam Beragama

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang hamba Allah dalam tingkatan beragamanya itu dapat digolongkan menjadi tiga (3) tingkatan : diantaranya yaitu :
  • Golongan Salimun (yang selamat), yaitu: orang-orang yang mengerjakan perkara-perkara yang fardhu saja dan meninggalkan perkara-perkara yang dilarang.
  • Golongan Raabihun (yanga beruntung), yaitu, orang-orang yang taat mengerjakan amalan-amalan fardhu, meninggalkan yang dilarang serta mengerjakan amalan-amalan sunah.
  • Golongan Khasirun (yang merugi), yaitu, orang-orang yang mengabaikan terhadap kewajiban-kewajiban agamanya.
Maka apabila tidak bisa menjadi golongan orang-orang yang beruntung, berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk menjadi golongan orang-orang yang selamat, kemudian berhati-hatilah jangan sampai terjerumus kedalam golongan orang-orang yang merugi dan celaka.

Dan selanjutnya berhubungan dengan pergaulan sesama manusia (manusia dengan manusia), mereka itu dapat di bagi atau di katagorikan menjadi tiga macam : antara lain...!
  • Orang perilakunya seperti para malaikat mulia (Al-Kirom), yaitu orang yang banyak berbuat untuk kepentingan orang lain, membantu dan menolong kesusahan orang lain. kedudukan orang macam ini sangat mulia, karena amalnya didasari keikhlasan dan jasanya sudah banyak.
  • Orang yang perilakunya seperti binatang (Al-Bahaim) atau seperti batu, mereka ini tidak menguntungkan tidak pula menghasilkan kebaikan terhadap sesama manusia dan apalagi untuk dirinya sendiri. tetapi manusia yang masuk dalam katagori ini juga tidak mengerjakan keburukan.
  • Orang yang perilakunya seperti kalajengking (Al-Aqorib), yaitu orang yang kelakuanya sama dengan binatang berbisa atau binatang buas, mereka ini tidak bisa di harapkan kebaikanya bahkan selalu di khawatirkan dan di takutkan akan menimbulkan kejahatan. 
Jika manusia tidak bisa menempati tingkat/derajat golongan Al-Kirom (golongan mulia), setidaknya berhati-hatilah terhadap golongan yang kedua ini (Al-Bahaim), yaitu bisa di bilang golongan yang apatis, mereka ini seperti makhluk yang tidak bernyawa dalam arti kata jasad tanpa ruh. Dan semoga kita juga dapat mencegah jangan sampai masuk kedalam katagori yang ketiga, yaitu golongan (Al-Aqorib) kalajengking ular dan binatang buas yang sering menimbulkan bahaya dan mencelakakan orang lain.

Pun jua jika manusia merasa puas dan suka tidak menjadi golongan A'la 'illiyin (yang luhur dan terhormat), maka jagalah dari golongan yang ke tiga asfala-safilin (yang paling rendah derajatnya), Dan mengenai golongan yang kedua, mungkin manusia lebih merasa aman dan selamat, tidak beruntung dan tidak pula merugi, akan tetapi hendaklah manusia itu berusaha hari demi hari jangan sampai terpengaruh apa-apa kecuali untuk mengerjakan hal-hal yang dapat mendatangkan kemanfaatan untuk akherat atau untuk penghidupan duniawi. Dengan bekal penghidupan dunia itu selalu memohon kapada Allah agar dapat cenderung kepada kepentingan akherat.

Apabila manusia merasa lemah (tidak mampu) menjaga agama, disebabkan karena pengaruh pergaulan manusia, maka sebaiknya melakukan Uzlah (mengasingkan diri dari makhluk, menyendiri, atau bisa juga disebut khalwat). karena dengan Uzlah dan bersunyi-sunyi itu lebih baik dan akan membawa keselamatan serta ketenangan.

Dan jikalau, seandainya dalam melakukan Uzlah (mengasingkan diri) itu merasa was-was maka syetan membujuk dan membisiki mengajak kepada kesesatan dan mengajak kepada perbuatan yang tidak di ridhoi Allah Swt. seperti apa yang disebutkan dalam Al-qur'an :
وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلاَ كشِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُ تَعْقِلُونَ
 "Sungguh setan telah menyesatkan sebagian besar di antara kalian. maka apakah kalian tidak memikirkan" (Qs.Yasin [36] : 62)

dan manusia itu sendiri pun tidak mampu untuk menahan serangan (godaan) syetan maka segeralah mengerjakan ibadah, dziqir dan memohon perlindungan kepada Allah seperti apa yang pernah disabdakan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadist :"Barangsiapa yang memohon perlindungan kepada Allah sekali, niscaya Allah akan melindunginya pada hari itu". serta senantiasa memantau keadaan diri, seperti yang di firmankan Allah Swt dalam sebuah hadist Qudsi :

Artinya : "Wahai hamba-hamba-Ku,setan itu sangat jauh dari-Ku, sedang kamu sangat dekat dari-Ku. Perbaikilah adab untuk senantiasa mengawasi dan memantau keadaanmu sehingga setan tidak dapat mencapai dirimu dengan cara dan jalan apa pun".

atau mungkin lebih baik tidur saja, akan tetapi tidak akan memperoleh apa-apa juga tidak menghasilkan apa-apa, tetapi selamat. dengan tidur berarti telah mengosongkan jiwa sehingga dapat di ibaratkan seperti batu yang diam tak bernyawa (tidak bergerak). Wallahu A'lam.

Semoga kita semua wabil khusus yang membaca artikel ini mendapat perlindungan Allah Swt, dari godaan dan tipu daya setan laknatullah.

(Sumber:Bidayatul Hidayah hal: 59-61)
Share:

Jumat, 17 Juli 2015

Cinta Kepada Ahlul Bait






 

قُلْ لآأَسْأَلُكُمْ علَيهِ أَجْرًاإِلَّاالْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبَى
Berangkat dari Firman Allah SWT, "Katakanlah (ya Muhammad kepada mereka), aku tidak meminta kepadamu suatu upah atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." (QS.as-Syura : 23)

Memuliakan dan mencintai dzurriyah Rosulullah Saw, Ahlul Bait atau keluarganya itu sangat di muliakan oleh Allah dengan menghilangkan dosa-dosa mereka sehingga tetap terpelihara kesucianya. Hal ini diebutkan dalam Al-qur'an :

إِنَّمَا يُرِيدُاللهَ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
"Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hal Ahlul Bait, dan membersihkan sebersih-bersihnya." (QS. Al-ahzab [33] : 33)

Dalam hadist yang di keluarkan oleh Sa'id bin Jubair ra.yang dimaksud keluarga (al-qurba) dalam ayat ini adalah keluarga Rosulullah Saw. Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim mengeluarkan sebuah hadist, juga Ibnu Mardiwaih dalam penafsiranya dan at-Tabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir yang bersumber dari Ibnu Abas ra. dalam penafsiranya, ketika ayat ini turun (QS. sa-Syura : 23) para sahabat bertanya, "Ya Rosulullah, siapa kerabatmu yang wajib di cintai ?, Nabi Saw menjawab, Ali-Fatimah dan kedua putranya."

Imam Muslim Imam Turmudzi dan Imam Nasai mengeluarkan hadist yang bersumber dari Zaid bin Arqam ra, "Sesungguhnya Rosulullah berkata, "Aku ingatkan kepada Allah pada Ahli Bait-Ku (keluargaku)." dari berbagai muqodimah kitab ketika para penyusun kitab bersalawat kepada Nabi dan keluarganya, mereka memberikan penafsiran atau di tafsirkan oleh ulama lain (pensyarah kitab) bahwa pengertian alihi (keluarganya) adalah mereka yanga bergaris nasab Bani Hasyim dan Bani Muthalib. dengan demikian siapapun yang mempunyai silsilah kelahiran hingga ke Bani Hasyim dan Bani Muthalib mereka itulah yang secara istilah syiar'inya layak disebut Ahlul Bait.

Pertanyaanya Mengapa kita harus mencintai Ahlul Bait ? bukankah Nabi Saw.menegaskan, bahwa tidak ada kelebihan antara orang Arab dan orang non Arab melainkan Taqwanya..?Pertanyaan dan Pernyataan inilah yang sering timbul di masyarakat.

Jawaban singkatnya tentang mengapa kita mesti mencintai Ahlul Bait, ya tentu karena perintah Allah dalam ayat Al-qur'an tadi (QS. as-Syura : ayat 23). disamping beberapa keterangan hadist di bawah ini.

Ibnu Abas ra meriwayatkan bahwasanya Nabi Saw bersabda :

أَحِبُّوااللهَ لِمَا يَغْدُوْكُمْ بِهِ وَأَحِبُّوْنِى بِحُبِّ اللهِ وَأَحِبُّوأَهْلَ بَيْتِى بِحُبِّىْ
"Cintailah Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kalian, cintailah aku berdasarkan kecintaan kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku berdasarkan kecintaan kepadaku."
Pada riwayat lain, Rosulullah bersabda : "Cintailah Allah lantaran nikmat yang telah dilimpakan-Nya kepada kalian, cintailah aku lantaran Allah mencintaiku, dan cintailah Ahlul Bait(keluarga)ku lantaran cintaku kepada mereka.

Ibnu Mas'ud meriwayatkan bahwasanya Rosulullah bersabda :

حُبُّ اَلِ مُحَمَّدٌ يَوْمًا خَيْرٌ مِنْ عِبَا دَةِ سَنَةٍ
"Mencintai keluarga Nabi Muhammad Saw, satu hari itu lebih baik dari pada ibadah satu tahun."

Abu Hurairah meriwayatkan bahwasanya Rosulullah telah menegaskan dengan sabdanya:

خَيْرُ كُمْ خَيْرُ كُمْ لإَِ هْلِى مِنْ بَعْدِى
".Yang terbaik diantara kalian ialah orang yang terbaik sikapnya terhadap Ahlul Bait(keluargaku) sepeniggalku."

Imam Ahmad bin Hanbal mengetengahkan sebuah hadist marfu' bahwasanya Rosulullah bersabda :

مَنْ أَبْغَضَ أَهْلَ الْبَيْتِ فَهُوَ مُنَافِقٌ
"Barang siapa membenci Ahlul Bait, dia adalah munafik."

Beliau pun bersabda :
حُرِّمَتِ الْجَنَّةُ عَلىَ مَنْ ظَلَمَ أَهْلَ بَيْتىِْ وَاذَانِى فِ عِتْرَ نِىْ
".Syurga diharamkan bagi orang yang berbuat aniaya (zalim) terhadap Ahlul Baitku dan mengganggu ku lewat keturunan-ku."

Al-Mala dalam kitabnya As-Sirah mengemukakan sebuah hadist Nabi Saw, bahwasanya Rosulullah bersabda :

اِسْتَوصُوْابِأَهْلِ بَيْتِىْ خَيْرًا فَإِنّىِ أُخَاصِمُكُمْ عَنْهُمْ غَدًا وَمَنْ أَكُنْ خَصْمُهُ أَخْصَمَهُ اللهُ وَمَنْ أَخْصَمَهُ اللهُ أَدْخَلَهُ النَّارَ
".Wasiatkanlah kebaikan bagi Ahlul Baitku, karena sesungguhnya aku pada hari esok (kiamat) akan menggugat kalian mengenai Ahlul Baitku, Barang siapa yang menghadapi gugatanku, ia akan di gugat oleh Allah, dan barang siapa yang di gugat oleh Allah, ia akan dimasukan kedalam neraka."

Abu Sa'id Khudri ra, meriwayatkan bahwa sesungguhnya Rosulullah bersabda :

لآيَبْغَضُنَا أَهْلَ الْبَيْتِ أَحَدٌ إِلَّااَدْخَلَهُ
".Tidak lah seseorang membenci kami, Ahlul Bait, melainkan dirinya dimasukan (Allah swt) kedalam neraka."

Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath-nya mengetengahkan hadist dari Jabir bin Abdullah ra, bahwa ia mendengar Rosulullah berqotbah, isi qotbah beliau adalah :

أَيُّهَاالنَّاسُ, مَنْ أَبْغَضَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ حَثَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيََامَةِ يَهُودِيًا
".Hai sekalian manusia ! barang siapa membenci kami, Ahlul Bait kami, pada hari kiamat (kelak), ia akan digiring sebagai orang yahudi."

Imam Az-Zamaksyari dalam kitab tafsirny Al-Kasyaf mengetengahkan sebuah hadist panjang, yang dicantumkan pula oleh Imam Fakhrudin Ar-Razi dalam kitab tafsirnya Mafatih Al-Ghaib At Tafsir Al-Kabir sehubungan dengan tafsir ayat Al-Mawaddah. Rosulullah Saw bersabda :

مَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ اَلِى مُحَمَّدٌ شَهِيدًا, أَلَاوَمَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ اَلِ مُحَمَّدٍمَاتَ مَغْفُوْرًالَهُ, أَلَاوَمَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ اَلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ تَاءِبًا. أَلَاوَمَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ اَلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ مُوءْمِنًا مُسْتَكْمِلَ الإِْيْمَانِ,أَلَاوَمَنْ مَاتَ عَلَى حُبِّ اَلِ مُحَمَّدٍ بَسَّرَهُ مَلَكُ الْمَوتِ بِاالْجَنَّةِ ثُمَّ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ, أَلَاوَمَنْ مَاتَ اَلَى حُبِّ اَلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ اَلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَلَاوَمَنْ مَاتَ اَلَى حُبِّ اَلِ مُحَمَّدٍ فُتِحَ لَهُ فِى قَبْرِهِ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ. أَلَاوَمَنْ مَاتَ اَلَى بُعْضِ أَلِ مُحَمَّدٍ جَاءَيَومَ الْقِيَمَةِمَكْتُوبًا بَيْنَ عَيْنَيْهِ اَيِسٌ رَحْمَةِاللهِ. أَلَاوَمَنْ مَاتَ لَى بُعْضِ أَلِ مُحَمَّدٍ مَاتَ كَافِرً. أَلَاوَمَنْ مَاتَ لَىَ بُعْضِ أَلِ مُحَمَّدٍلَمْ يَشُمَّ رَءِحَةِ الْجَنَّةِ
". Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad Saw, ia meninggal sebagai syahid. ketahuilah  Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad Saw ia memperoleh ampunan atas dosanya. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad Saw, ia meninggal dalam keadaan diterima tobatnya, ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad Saw, ia meninggal sebagai orang beriman yang sempurna imanya. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad Rosulullah Saw, iadiberi kabar gembira oleh malaikat-malaikat akan masuk syurga, kemudian diberi tahu pula oleh dua malaikat munkar dan nakir. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad Rosulullah Saw, ia akan di arak masuk syurga seperti pengantin perempuan yang di arak menuju rumah suaminya. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad Rosulullah Saw, ia meninggal dalam lingkungan ahlus sunnah wal jamaah. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad Rosulullah Saw, di dalam kuburnya ia akan di bukakan dua pintu menuju syurga. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan membenci keluarga Muhammad Rosulullah Saw, pada hari kiamat kelak, ia akan di bangkitkan dalam keadaan tertulis dikeningnya,"orang yang putus asa dari rahmat Allah. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan membenci keluarga Muhammad Rosulullah Saw, ia meninggal dalam keadaan kafir. ketahuilah barangsiapa yang meninggal dalam keadaan membenci keluarga Muhammad Rosulullah Saw, ia (sedikitpun) tidak akan mencium wewangian syurga."

Rosulullah pun bersabda :

أَرْبَعَةٌ أَنَالَهُم شَفِيعُ يَوْمَ القِيَمَةِ : اَلْمُكْرِمُ لِذُ رِّيَّتِيْ وَالْقَضِى لَهُمْ حَوَءِجَهُمْ وَالسَّاعِى لَهُمْ فِى أُمُورِهِمْ عِنْدَ مَااضْطَرُّوا إِلَيهِ لَهُمْ بِقَلْبِهِ وَلِسَانِهِ
".Empat golongan yang aku akan memberi syafaat kepada mereka pada hari kiamat, yaitu :
  • orang yang menghormati keturunanku;
  • orang yang memenuhi kebutuhan mereka;
  • orang berusaha membantu urusan mereka disaat mereka memerlukanya;
  • dan orang yang mencintai mereka dengan hati dan lidahnya (ucapanya).
Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abdullah bin Umar ra, bahwasanya Sayidina Abu Bakar Ash-Siddiq ra, berkata :
اُرْقُبُوا مُحَمَّدً فِى أَهْلِ بَيتِهِ
".Jagalah (laksanakanlah wasiat) Muhammad Rosulullah Saw mengenai Ahlul Baitnya."

Begitu juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa Sayidina Abu Bakar Ash-Siddiq ra, berkata :

وَالَّذِى نَفْسِىْ بِيَدهِ لَقَرَبَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَصِلَ مِنْ قَرَبَةِ
".Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh kerabat Rosulullah Saw lebih aku cintai untuk kuperlakukan dengan baik dari pada kerabatku sendiri."

Ad-Dailami mengetengahkan sebuah riwayat bahwasanya Nabi Saw bersabda :

مَنْ أَرَادَ التَّوَسُّلَ وَأَنْ يَكُونَ لَهُ عِندِىْ يَدٌ أَشْفَعُ لَهُ بِهَا يَومِ الْقِيَمَةِ فَلْيَصِلْ أَهْلَ بَيتِىْ وَيُدْخِلَ السٌّرُوْرَ عَلَيهِمْ
"Barangsiapa yang hendak berwasilah (tawasul) dan ingin memperoleh syafaat dari ku pada hari kiamat (kelak), hendaknya ia menjaga hubungan (silaturahmi) dengan Ahlul-Baitku dan melakukan perbuatan yang menggembirakan mereka."

Begitu jua Ad-Dailami meriwayatkan sebuah hadist yang bersumber dari Sayidina Ali bin Abi Thalib ra, bahwa sesungguhnya Rosulullah Saw bersabda :

أَشْبَتُكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ أَشََدُّ كُمْ حُبًّا لِإَهْلِ بَيتِىْ وَأَصْحَا بِىْ
"Orang yang paling teguh berjalan di atas shiroth di antara kalian ialah yang paling besar kecintaan kepada Ahlul-Baitku dan para sahabatku."

Ath-Thabrani di dalam kitab Al-Ausath-nya menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar bin Al-Khatab ra, mengatakan bahwa sesungguhnya Nabi Saw bersabda :

اَلْزِمُوْا مَوَدَّتَنَا أَهْلَ الْبَيتِ فَإِنَّهُ مَن لَقِيَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ يَوَدُّنَا دَخَلَ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَتِنَا وَالَّذِيْ نَفْسِىْ بِيَدِهِ لَايَنْفَعُ عَبْدًا عَمَلُهُ إِلَّا بِمَعْرِفَةِ حَقِّنَا
".Hendaklah kalian tetap memelihara kasih sayang terhadap kami, Ahlul-Bait, karena sesungguhnya siapa yang bertemu dengan Allah Azza wa Jalla (pada hari kiamat kelak) dalam keadaan mencintai kami, ia akan masuk syurga sengan syafaat kami
. Demi Allah yang menguasai nyawaku, amal seseorang hamba Allah tidak akan bermanfaat baginya, kecuali dengan mengenal hak-hak kami."

Rosulullah Saw pun bersabda :

اَلنُّجُومُ أَمَا نٌ لِأَهْلِ السَّمَاءِوَأَهْلُ الْبَيتِيْ مَانٌ لِأُمَّتِيْ. وَفِى رِوَايَةٍ : أَمَانٌ لِأَهْل لْأَرْضِ فَإِذَا هَلَكَ أَهْلُ بَيتِىْ جَاءَأَهْلُ اْلأَرْضِ مِنْ اْلْاَيَاتِ كَانُوْا يُوعَدُونَ
 ".Bintang-bintang adalah keselamatan bagi penghuni langit, sedangkan Ahlul-Baitku adalah keselamatan bagi umatku. (dalam riwayat lain),"....keselamatan bagi penghuni bumi.") Apabila Ahlul Baitku lenyap, apa yang di janjikan dalam ayat-ayat Al-qur'an akan tiba (yaitu bencana)." (riwayat jama'ah)

Rosulullah Saw pun berpesan : (HR.Dailami)
".Didiklah anak-anak kalian mengenai tiga perkara :

أَدِّبُوْاأٌوْلآدَكُمْ عَلَى ثَلَا ثِ خِصَالٍ: حُبُّ نَبِيُّكُمْ وَحُبِّ أَهْلِ بَيتِهِ وَقِرَاءَةِالْقُرْاَن.
  • Mencintai Nabi kalian;
  • Mencintai Ahlul-Bait;
  • dan Membaca Al-Qur'an;
Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَءِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنٌ وَالصِّدِ يْقيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ أُولَءِكَ رَفِيْقًا ذَالِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيمًا
".Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rosul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang di anugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para Shidiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya, yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui," (QS. Al-Imran [3] : 60-70).

Allah berfirman :
وَأَطِيْعُوْااللهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُم تُرْ حَمُونَ
".Dan taatilah Allah dan Rosul, supaya kamu diberi rahmat."(QS. Al-Imran [3] : 132)

Juga Allah berfirman :

قُلْ إِنْكُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَا تَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللهُُ وَيَغْفِرْلَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيْمٌ
".Katakanlah(wahai Muhammad)," jika kamu benar-banar mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang." (QS.Al-Imran [3] : 31)

Terhadap Ahlul-Bait Rosulullah Saw, kita juga wajib mengakui keutamaan martabat serta kelebihan-kelebihanya yang telah dilimpahkan Allah Azza wa Jalla kepada mereka, sebagai anugerah istimewa (khushusiyah) karena hubungan kekeluaragaan mereka dengan junjungan kita. Nabi Muhammd Saw. mereka adalah orang-orang safwah (suci), bagaimana tidak ? Allah Swt sendiri yang berkehendak menyucikanya langsung, sebagaimana di firmankan-Nya dalam kitab suci Al-qur'an :

إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْ هِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
"Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran kalian (hai) Ahlul Bait, dan menyuciakan kalian sesuci-sucinya."

Sedemikian banyak hadist-hadist Rosulullah Saw yang diriwayatkan oleh para sahabatnya bahwa mencintai Rosulullah Saw dan Ahlul-Bait-nya merupakan bagian dari agama islam yang wajib dituanaikan oleh setiap muslim yang mendambakan keridhaan Allah Azza wa Jalla. hal ini karena keridhaan Allah dan Rosul-Nya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan.

Wallahu A'lam
Share:

Kamis, 16 Juli 2015

Wejangan Iblis Kepada Firaun

Soal nasehat engga bener Iblis jagonya. bukankah Moyang Manusia, Adam as dan istrinya diturunkan dari syurga lantaran nasehat gombal sang iblis yang merayunya untuk makan buah khuldi agar bisa kekal tinggal di dalam syurga ?

Tak terkecuali Fir'aun musuh bebuyutan kanjeng Nabi Musa as. akan tetapi saat ini nasehatnya lumayan bagus , dan taukah anda ?

Suatu ketika iblis datang bertamu ke istana Fir'aun, "Tok !, tok  ! tok !,"pintu pun diketuk "Siapa diluar  !," tegas Fir'aun. "kalau kau memang tuhan, pasti kau tau siapa aku,"sambut si iblis.

Mengasyikan memang celoteh iblis ini, mungkin dia pun keki kepada Fir'aun gara-gara mengklaim dirinya sebagai tuhan dihadapan rakyat mesir, sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'an tentang klaim si raja mesir ini,

"Aku adalah tuhanmu yang paling tinggi  !," (QS. an-Nazi'at :24)

Bukankah sifat tuhan itu Maha melihat ?. Ironis seorang yang mengaku sebagai tuhan, sesuatu yang ada di balik pintu saja tidak tau. mungkin saat itu sang iblis bergumam, "Sebejat-bejatnya aku tidak pernah mengaku tuhan,dan kau, baru menjadi penguasa mesir saja sudah berani mengaku sebagai tuhan."

Konyolnya lagi, si Fir'aun ini pun mengklaim bisa menghidupkan dan mematikan orang sabagai penjelmaan dirinya menjadi tuhan, yaitu saat dikejar mimpi buruknya bahwa nanti ada seseorang yang akan menghancurkan diri dan kerajaanya. kemudian lewat wangsitnya itu, bergegaslah ia mengumpulkan seluruh bala tentaranya dan memerintahkan untuk membunuh seluruh bayi laki-laki yang ada saat itu dan membiarkan hidup bayi perempuan.

Baiklah kita tinggalkan sejenak wacana theologi konyol si Fir'aun dan kita lanjutkan dengan nasehat iblis berikutnya.

Hai Fir'aun taukah kau,siapa manusia yang lebih buruk dari kamu ?," tanya iblis. Fir'aun pun menggelengkan kepalanya tanda tidak tau. Manusia yang paling buruk dari sampean adalah si pendengki (hasud),"jawab iblis sendiri. 

Selesai sudah sang iblis la'natullah berwejangan di hadapan Fir'aun.(Lihat, kitab Qami at-Thugyan,Syeikh Nawawi al-bantani)

Dan taukah anda ciri sifat hasud yang paling ringan ? Senang Melihat Orang Susah dan Susah Melihat Orang Senang.

Sumber : Qami-at-Thugyan, oleh Syeikh Nawawi al-bantani (Muhammad Yusuf Hidayat)
Share:


jadwal-sholat